<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel - Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</title>
	<atom:link href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id</link>
	<description>Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Dec 2023 22:56:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2022/03/logo-head-gereja-150x100.png</url>
	<title>Artikel - Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</title>
	<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bertemu Paus Fransiskus, Megawati Diminta Pertahankan Kerukunan di Indonesia</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/bertemu-paus-fransiskus-megawati-diminta-pertahankan-kerukunan-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2023 22:56:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=1198</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Presiden Kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Paus Fransiskus di Istana Apostolik, Vatikan. Dalam pertemuan, Paus Fransiskus meminta kerukunan di Indonesia dipertahankan.Pertemuan Megawati dengan Paus Fransiskus pada Senin (18/12/2023) pagi waktu setempat. Dalam pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 15 menit ini, Megawati dan Paus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/bertemu-paus-fransiskus-megawati-diminta-pertahankan-kerukunan-di-indonesia/">Bertemu Paus Fransiskus, Megawati Diminta Pertahankan Kerukunan di Indonesia</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="wp-block-paragraph">Jakarta &#8211; Presiden Kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Paus Fransiskus di Istana Apostolik, Vatikan. Dalam pertemuan, Paus Fransiskus meminta kerukunan di Indonesia dipertahankan.<br>Pertemuan Megawati dengan Paus Fransiskus pada Senin (18/12/2023) pagi waktu setempat. Dalam pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 15 menit ini, Megawati dan Paus Fransiskus turut membahas sejumlah hal yang menjadi perhatian dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya, Megawati bersama para Dewan Juri Zayed Award bertemu Paus Fransiskus guna berdialog terkait penjurian Zayed Award untuk Persaudaraan Manusia atau Zayed Award for Human Fraternity 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Turut bersama rombongan Megawati, yakni Ketua Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional Rabbi Abraham Cooper dan Sekretaris Jenderal Zayed Award Mohamed Abdelsalam. Sedangkan mantan Direktur Jenderal UNESCO dan Mantan Menteri Bulgaria, Irina Georgieva Bokova, pun terlihat telah tiba lebih dulu di halaman Istana Apostolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Usai pertemuan itu, Megawati dan delegasi Indonesia menggelar pertemuan khusus dengan Paus Fransiskus di salah satu ruangan di Istana Apostolik atau Kepausan di Vatikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kesempatan itu, Megawati didampingi oleh Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono; Ketua DPP PDIP yang juga Ketua DPR RI, Puan Maharani; Bendahara Umum DPP PDIP Olly Dondokambey; dan Ketua DPP PDIP Bidang Hukum, Yasonna Laoly.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan Paus Fransiskus dengan Megawati dan rombongan berlangsung sangat hangat. Paus Fransiskus menerima Megawati dan rombongan di salah satu ruangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Takhta Suci Vatikan, Romo Markus Solo Kewuta SVD, pun berkesempatan menjadi penerjemah dalam pertemuan Paus Fransiskus dengan Megawati dan rombongan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paus Fransiskus dan Megawati pun berdialog dan membahas sejumlah hal yang menjadi perhatian. Di antaranya, soal kerukunan antarumat beragama dan ancaman perubahan iklim yang membahayakan alam dan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Ketika saya bertemu dengan rombongan, memang beliau (Paus Fransiskus) meminta untuk supaya apa yang terjadi di Indonesia dalam kehidupan kerukunan beragama agar diteruskan,&#8221; kata Megawati seusai pertemuan dengan Paus Fransiskus di kompleks Istana Apostolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Puan Maharani yang turut ikut dalam pertemuan itu menyampaikan bangsa Indonesia sangat menaruh perhatian serius dalam menjaga perdamaian dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puan juga menyebut Megawati turut menyampaikan bagaimana climate change atau perubahan iklim sangat memengaruhi dunia terkait apa yang terjadi dengan situasi hari ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dan kemudian, Paus Fransiskus memberikan masukannya bahwa kita sebagai sesama manusia harus sama-sama menjaga perdamaian, kemudian toleransi beragama tetap dijaga dan bagaimana dunia sekarang dan masa depan itu dijaga perdamaiannya,&#8221; ucap Puan menirukan pesan Paus Fransiskus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paus Fransiskus, kata Puan, juga mendorong agar Indonesia terus mempertahankan dan saling menjaga nilai toleransi antat umat beragama. Apalagi, Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Indonesia yang terdiri dari berbagai agama walaupun merupakan negara muslim terbesar, kami juga melakukan toleransi. Dan Paus Fransiskus menyampaikan bahwa hal itu harus tetap dipertahankan, dan kita harus sama-sama menjaga agar toleransi beragama dan perdamaian yang ada di dunia bisa tetap terjaga,&#8221; jelas Puan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puan juga menegaskan tidak ada pembicaraan soal politik dalam pertemuan Megawati dan Paus Fransiskus. Puan pun menceritakan, bahwa pertemuan Megawati dan Paus Fransiskus ditutup dengan foto bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kita nggak bicara politik, kita bicara tentang bagaimana kita bersama-sama menjaga perdamaian,&#8221; tegas Puan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca artikel detiknews, &#8220;Bertemu Paus Fransiskus, Megawati Diminta Pertahankan Kerukunan di Indonesia&#8221; selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-7096648/bertemu-paus-fransiskus-megawati-diminta-pertahankan-kerukunan-di-indonesia.</p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/bertemu-paus-fransiskus-megawati-diminta-pertahankan-kerukunan-di-indonesia/">Bertemu Paus Fransiskus, Megawati Diminta Pertahankan Kerukunan di Indonesia</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maria Bukan Dewi Kesuburan</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/maria-bukan-dewi-kesuburan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Nov 2023 07:44:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Katekese]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=1158</guid>

					<description><![CDATA[<p>Romo, saya sempat membaca sebuah buku, dikatakan bahwa masih banyak umat Katolik khususnya di Jawa yang memandang figur Maria sama dengan sosok Dewi Sri. Apakah keduanya bisa dianggap sama? Maria Natia, Solo Dewi Sri dipandang sebagai dewi kesuburan, dewi padi dan sawah. Bahkan tidak jarang ditempatkan sebagai pelindung kehidupan. Sosok ini menurut banyak ahli berangkat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/maria-bukan-dewi-kesuburan/">Maria Bukan Dewi Kesuburan</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="wp-block-paragraph">Romo, saya sempat membaca sebuah buku, dikatakan bahwa masih banyak umat Katolik khususnya di Jawa yang memandang figur Maria sama dengan sosok Dewi Sri. Apakah keduanya bisa dianggap sama? <strong>Maria Natia, Solo </strong></p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="696" height="522" src="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/11/Marry-Maria.jpeg" alt="" class="wp-image-1159" srcset="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/11/Marry-Maria.jpeg 696w, https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/11/Marry-Maria-300x225.jpeg 300w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dewi Sri dipandang sebagai dewi kesuburan, dewi padi dan sawah. Bahkan tidak jarang ditempatkan sebagai pelindung kehidupan. Sosok ini menurut banyak ahli berangkat dari tradisi Jawa kuno, maka sering dikatakan berasal dari mitos lama, dengan beberapa variasi kisah yang menceriterakannya. Tentu penggambaran ini tidak bisa tumbuh dari kultur agraris yang dalam tradisi masyarakat, sesuatu yang tidak lagi sangat kuat di dominasi budaya industri dan urban dewasa ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa penggambaran, Dewi Sri diperlihatkan sebagai putri cantik dengan wajah anggun dan teduh. Bisa jadi penggambaran ini dekat dengan tradisi budaya, karena memang hidup manusia ditopang oleh pangan, dan tanah yang pinggiran, terlebih bagi pertanian, merupakan lukisan ideal akan tanah Jawa yang pinggiran, menopang kehidupan serta kesejahteraan. Bahkan tidak jarang Dewi Sri dipandang sebagai personifikasi tanah, karena tanah adalah yang “melahirkan” tanam-tanaman yang “melahirkan” kehidupan bagi umat manusia. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu Maria digambarkan pula sebagai Hawa baru, yang menumbuhkan dan melindungi, karena dialah yang melahirkan dan melahirkan Penyelamat, yang melahirkan manusia dari terikat dosa dan maut. Kitab Kejadian saat Allah memberi nama perempuan pertama dengan nama Hawa, dikatakan bahwa dialah yang menjadi ibu semua yang hidup (Lih. Kej. 3:20). Kitab Wahyu memberi gambaran tentang seorang perempuan yang melahirkan dan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menggembalakan semua bangsa. Perempuan itu diserang oleh naga besar dan bencana, namun bisa selamat dan bahkan dilindungi oleh Allah, hingga naga itu kalah, namun tidak mau menyerah karena masih terus marah terhadap perempuan itu akan tetapi tidak pernah berhasil (Lih. Why. 12:1-17 ). memandang langit baru dan bumi baru (Lih. Why. 21:1-27). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya untuk digambarkan secara dekat atau sejajar antar dua pribadi bisa dimaklumi, karena bagaimana pun umat manusia membutuhkan ilustrasi penjelas. Akan tetapi selalu bisa memuat berbagai bahaya jika lalu menidentifikasikan secara sama dua pribadi yang berbeda, dengan latar belakang kisah tuturan serta tradisi yang. Oleh karena itu bisa memuat penyederhanaan atau upaya-upaya yang tidak sesuai dengan permintaan jika Ibu Maria begitu saja disamakan dengan Dewi Sri. Akan tetapi lebih mungkin jika penggambaran tentang Dewi Sri dipakai sebagai pengantar atau penggambaran awal untuk berbicara tentang Ibu Maria. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang Maria melahirkan dan melahirkan Yesus, tetapi akan menyebabkan Maria dewi kesuburan dan pelindung kehidupan, sebab hanya Tuhanlah, bukan manusia, pelindung kehidupan, sebab Dia sendiri adalah kehidupan itu (Lih. Yoh. 14:6), bahkan roti hidup (Lih. Yoh. 6:25-59), dan memberikan kesuburan (Lih. Kis. 14:17). Maria mengantar umat manusia sampai kepada Sumber Hidup, bukan berhenti pada dirinya sendiri atau memuja dirinya sendiri, lepas dari Tuhan. Dia menjaga kehidupan, tidak mengutuk ancaman bila ada yang tidak menghargainya. Bahkan kisah mukzijat pertama di Kana menggambarkan tentang Maria yang peduli agar segalanya dapat berjalan dengan baik (Yoh. 2:1-11). Maria itu perempuan biasa, manusia yang sama dengan kita semua, bukan seorang dewi, mengajarkan tentang bagaimana kita sebagai manusia hidup di hadapan Allah, </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi saya Maria lebih lengkap dari Dewi Sri, sebab Maria itu hidup dan nyata serta masih menyertai kita hingga kini. Menggambarkannya seperti Dewi Sri bisa dibuat, namun sebagai pengantar untuk menggambarkan Ibu Maria, namun menyamakannya begitu saja malahan memiskinkan pengenalan kita akan sosok Bunda Maria. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Romo T. Krispurwana Cahyadi, SJ (Teolog Dogmatik) </strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sumber: HIDUP NO.21, 23 Mei 2021</strong></p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/maria-bukan-dewi-kesuburan/">Maria Bukan Dewi Kesuburan</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peringatan Arwah Semua Orang Beriman (2 November)</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/peringatan-arwah-semua-orang-beriman-2-november/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Nov 2023 01:04:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Katekese]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=1154</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin, kita memuliakan semua Orang Kudus dan berdoa memohon agar kita pun kelak bisa berbahagia bersama mereka di dalam surga sambil memandang wajah Allah, Bapa kita. Hari ini kita mengenang saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan Nopember ini kita khususkan untuk berdoa dan berkorban untuk memohon kerahiman [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/peringatan-arwah-semua-orang-beriman-2-november/">Peringatan Arwah Semua Orang Beriman (2 November)</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/11/all-souls-day-dhaka-bangladesh-canon-eos-5d-mark-ii-ef24-105mm-usm-saud-a-faisal-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-1155" srcset="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/11/all-souls-day-dhaka-bangladesh-canon-eos-5d-mark-ii-ef24-105mm-usm-saud-a-faisal-1024x683.jpg 1024w, https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/11/all-souls-day-dhaka-bangladesh-canon-eos-5d-mark-ii-ef24-105mm-usm-saud-a-faisal-300x200.jpg 300w, https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/11/all-souls-day-dhaka-bangladesh-canon-eos-5d-mark-ii-ef24-105mm-usm-saud-a-faisal-768x512.jpg 768w, https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/11/all-souls-day-dhaka-bangladesh-canon-eos-5d-mark-ii-ef24-105mm-usm-saud-a-faisal.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kemarin, kita memuliakan semua Orang Kudus dan berdoa memohon agar kita pun kelak bisa berbahagia bersama mereka di dalam surga sambil memandang wajah Allah, Bapa kita. Hari ini kita mengenang saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan Nopember ini kita khususkan untuk berdoa dan berkorban untuk memohon kerahiman Allah atas mereka. Hal ini kita lakukan karena di dalam Yesus Kristus, Penyelamat semua orang yang, merindukan keselamatan dari Allah dengan tulus hati, kita tetap bersatu padu dengan mereka. Dalam iman akan Kristus itu, kita percaya bahwa apa yang kita namakan Persekutuan para Kudus meliputi baik kita yang masih hidup di dunia ini, maupun semua Orang Kudus di surga, dan semua orang yang telah meninggal. Bersama-sama kita membentuk dan terhimpun di dalam satu Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari ini kita secara khusus mengenang dan berdoa bagi arwah semua orang beriman yang telah meninggal dunia. Maka kiranya ada baiknya kita menyadari makna peristiwa kematian menurut ajaran iman kita. Bagi kita orang Kristen saat kematian sesungguhnya merupakan peristiwa puncak kehidupan. Hidup kita tidak lenyap, melainkan hanya diubah. Kita percaya bahwa sesudah pengembaraan kita di dunia ini selesai, tersedialah bagi kita kediaman abadi di surga. Kematian bagi kita merupakan saat kita mempercayakan diri secara total kepada Kristus, kebangkitan dan kehidupan kita saat perjumpaan abadi dengan Dia, pokok pengharapan kita, yang mengantar kita pulang ke rumah Bapa. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas dasar iman itu, kita memohon agar saudara-saudara kita yang telah meninggal dunia disucikan dari segala dosanya, dibebaskan dari segala hambatan dan noda, dan boleh menikmati kebahagiaan kekal di sisi kanan Allah, Bapa kita, serta boleh bersama-sama para kudus di surga memandang wajah Allah yang dirindukannya. Hari kenangan dan peringatan ini pun sekaligus memberi penghiburan rohani bagi kita, bahwa kelak kita akan berjumpa kembali dengan saudara-saudara yang telah mendahului kita, untuk bersama Maria memuji dan memuliakan Allah dalam persekutuan semua orang kudus. Kita pun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini dan pulang kepada Bapa di surga. Tetapi kita percaya bahwa hidup atau mati, kita tetap milik Kristus. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: www.imankatolik.or.id</p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/peringatan-arwah-semua-orang-beriman-2-november/">Peringatan Arwah Semua Orang Beriman (2 November)</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa orang Katolik tidak boleh merayakan Natal sebelum tanggal 25?</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/mengapa-orang-katolik-tidak-boleh-merayakan-natal-sebelum-tanggal-25/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Sep 2023 03:59:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Katekese]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=1076</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kadang -kadang saudara-saudara perempuan yang Kristen Protestan merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember, sedangkan kita orang Katolik tidak merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Mengapa ada perbedaan itu? Mengapa dibedakan menjadi dua periode, yaitu masa Adven dari Minggu I sampai tanggal 16 Desember dan mulai tanggal 17 sampai 24 Desember? Lucius Sumarlin, Surabaya Pertama, sudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/mengapa-orang-katolik-tidak-boleh-merayakan-natal-sebelum-tanggal-25/">Mengapa orang Katolik tidak boleh merayakan Natal sebelum tanggal 25?</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="wp-block-paragraph">Kadang -kadang saudara-saudara perempuan yang Kristen Protestan merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember, sedangkan kita orang Katolik tidak merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Mengapa ada perbedaan itu? Mengapa dibedakan menjadi dua periode, yaitu masa Adven dari Minggu I sampai tanggal 16 Desember dan mulai tanggal 17 sampai 24 Desember?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Lucius Sumarlin, Surabaya</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, sudah sejak awal berdirinya Gereja, selalu ada masa persiapan untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Masa persiapan ini disebut masa Adven (artinya kedatangan). Itu persiapan bidang liturgis maupun penghayatan rohani pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sasaran itu dijadikan dua, yaitu jangka panjang dan jangka pendek. Persiapan panjang diarahkan pada kedatangan Kristus yang kedua sebagai Hakim Akhir Zaman. Dan persiapan segera diarahkan pada perayaan pesta kelahiran Yesus di Betlehem tanggal 25 Desember.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari catatan sejarah abad IV, sudah dibedakan adanya dua makna masa Adven seperti itu. Dua makna inilah yang dipertahankan oleh Konsili Vatikan II dalam liturgi Gereja. Tidak ada masa Adven di Gereja-gereja Protestan yang bisa menjadi perwujudan keinginan untuk tampil beda dari Gereja Katolik dan kurang perhatian pada tradisi Gereja yang sudah ada sejak awal.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, masa Adven terdiri atas empat hari Minggu dengan tema utama penantian. Dua makna Adven tersebut melatar-belakangi pembedaan perayaan liturgis. Liturgi dari Minggu pertama sampai 16 Desember lebih diarahkan kepada penantian eskatologis, yaitu kedatangan Yesus Kristus yang kedua sebagai Hakim Akhir Zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bacaan-bacaan liturgis selama periode pertama memikirkan tema jangka panjang ini. Dengan demikian masa penantian Adven mengajak seluruh umat untuk memandang ke depan, yaitu ke saat akhir dari seluruh alam semesta atau saat akhir dari hidup setiap orang. Jadi, periode pertama Adven ini memberikan perspektif yang lebih mendalam untuk masa Adven periode kedua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mulai 17 Desember dimulailah periode kedua masa Adven sampai 24 Desember, yaitu persiapan jangka pendek. Baik dalam perayaan Ekaristi maupun dalam Ibadat Harian, semua rumusan doa, bacaan, permintaan, diarahkan lebih jelas untuk merayakan kembali kelahiran Sang Sabda sebagai bayi Yesus di Betlehem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua makna Adven inilah yang menunjukkan bahwa masa Adven merangkum keseluruhan kekayaan eskatologis misteri kedatangan Tuhan dalam sejarah sampai pada pemenuhannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persiapan jangka panjang menampilkan dimensi eskatologis, dan persiapan jangka pendek menunjukkan dimensi sejarah-sakramental. Keduanya sangat erat terkait dan dihayati dalam hidup setiap murid Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, dimensi eskatologis masa Adven menunjukkan, bahwa keselamatan yang telah kita terima dan nikmati dari Allah, masih terus berkembang menuju kesempurnaannya di akhir zaman (1 Ptr 1:5). Keselamatan yang sudah kita nikmati tetapi belum penuh adalah jaminan keselamatan Allah yang akan ditingkatkan untuk perbaikannya pada saat kedatangan Kristus yang kedua, yaitu pada “hari Tuhan” (1 Kor 1:8; 5:5).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dimensi eskatologis ini mengingatkan kita akan tugas misioner Gereja untuk mewujudkan keselamatan itu sepenuhnya sampai pada kedatangan Kristus yang kedua sebagai Hakim Akhir Zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dimensi sejarah-sakramental masa Adven merujuk pemenuhan janji keselamatan Allah, yang sudah terwujud dalam diri Yesus, yang dilahirkan di Betlehem itu. Janji Allah diwujudkan secara sangat nyata dalam bentuk kelahiran Yesus, dalam darah dan seperti kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah yang tak terlihat itu menjadi tampak dan dapat diraba dalam diri Yesus, putra Maria, yang dilahirkan di kandang di Betlehem. Dialah Sang Penyelamat yang Allah.</p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/mengapa-orang-katolik-tidak-boleh-merayakan-natal-sebelum-tanggal-25/">Mengapa orang Katolik tidak boleh merayakan Natal sebelum tanggal 25?</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TIDAK ADA ORANG KRISTEN YANG AKAN MENDAPAT HUKUMAN DI API NERAKA?</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/tidak-ada-orang-kristen-yang-akan-mendapat-hukuman-di-api-neraka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Sep 2023 03:56:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Katekese]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=1073</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertanyaan Sebagai seorang Kristen Katolik, kita mengatakan, “Oleh salib, kita semua diselamatkan.” Dengan demikian semua orang (entah dia itu orang baik, entah dia itu orang jahat) mendapat tempat yang sama di surga. Menurut hemat saya, tidak ada orang Kristen yang akan mendapat hukuman di api neraka karena semua telah ditebus oleh salib Yesus. Bagaimana menurut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/tidak-ada-orang-kristen-yang-akan-mendapat-hukuman-di-api-neraka/">TIDAK ADA ORANG KRISTEN YANG AKAN MENDAPAT HUKUMAN DI API NERAKA?</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertanyaan</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Sebagai seorang Kristen Katolik, kita mengatakan, “Oleh salib, kita semua diselamatkan.” Dengan demikian semua orang (entah dia itu orang baik, entah dia itu orang jahat) mendapat tempat yang sama di surga. Menurut hemat saya, tidak ada orang Kristen yang akan mendapat hukuman di api neraka karena semua telah ditebus oleh salib Yesus. Bagaimana menurut Romo?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawaban</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seluruh umat manusia telah ditebus oleh darah Yesus Kristus yang tercurah di salib. Oleh kurban Yesus di salib, perseteruan antara Allah dan manusia diakhiri. Akan tetapi, rahmat keselamatan ini adalah tawaran dari Allah yang masih harus ditanggapi dan dihayati oleh manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang Kristen adalah orang yang secara eksplisit ingin menaggapi tawaran Allah. Namun, menerima baptisan saja bukanlah jaminan untuk masuk surga, kalau si terbaptis tidak benar-benar menghayati statusnya sebagai orang Kristen. Bukankah Yesus sendiri mengatakan, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaku: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjijat demi nama-Mu juga?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:22-23).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, tidak benar bahwa semua orang Kristen tidak bakal masuk neraka. Orang Kristen yang berbuat jahat pun akan dihukum di neraka. Ucapan “oleh salib, kita semua diselamatkan” mengandaikan bahwa kita yang mengucapkannya, juga hidup selaras dengan iman kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Sumber: Umat Bertanya, Romo Pid Menjawab. Yogyakarta: Kanisius, 2000.</em></p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/tidak-ada-orang-kristen-yang-akan-mendapat-hukuman-di-api-neraka/">TIDAK ADA ORANG KRISTEN YANG AKAN MENDAPAT HUKUMAN DI API NERAKA?</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wajibkah Mengikuti Misa Minggu Paskah Pagi?</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/wajibkah-mengikuti-misa-minggu-paskah-pagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Sep 2023 03:52:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Katekese]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=1070</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada saat Paskah, di beberapa Gereja ada acara tirakatan Paskah, yaitu pada Sabtu Malam Paskah. Beberapa pastor juga menyarankan agar, selain &#160;datang mengikuti misa pada Malam Paskah, umat juga datang pada misa Minggu Paskah pagi. Apa yang dimaksud dengan tirakatan Paskah? Apakah perbedaan antara misa pada Malam Paskah dan Minggu Paskah pagi? Apakah umat harus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/wajibkah-mengikuti-misa-minggu-paskah-pagi/">Wajibkah Mengikuti Misa Minggu Paskah Pagi?</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="wp-block-paragraph"><em>Pada saat Paskah, di beberapa Gereja ada acara tirakatan Paskah, yaitu pada Sabtu Malam Paskah. Beberapa pastor juga menyarankan agar, selain &nbsp;datang mengikuti misa pada Malam Paskah, umat juga datang pada misa Minggu Paskah pagi. Apa yang dimaksud dengan tirakatan Paskah? Apakah perbedaan antara misa pada Malam Paskah dan Minggu Paskah pagi? Apakah umat harus menghadiri kedua perayaan tersebut?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, tirakatan Paskah adalah nama lain dari Malam Paskah. Kata “tirakatan” adalah terjemahan dari kata “malam” atau vigilia (Latin), yaitu malam sebelum sebuah perayaan. Malam Paskah atau tirakatan Paskah disebut sebagai “induk dari semua tirakatan” karena di sinilah Gereja merayakan pokok misteri imannya, yaitu Misteri Paskah Kebangkitan (Perayaan Paskah dan Persiapannya, art. 77, Seri Dokumen Gerejani No. 71) Kebangkitan Kristus adalah dasar iman dan harapan kita. Seperti orang-orang Ibrani, pada malam Paskah mereka menantikan saat pembebasan dari perbudakan Firaun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula kita, pada Malam Paskah kita menantikan saat Kebangkitan Kristus yang menandai pembebasan kita dari penindasan dosa. Malam Paskah Yahudi itu adalah “gambaran yang mewartakan Paskah sejati Kristus, sekaligus gambar pemerdekaan sejati…” (art. 79). Kebiasaan merayakan kebangkitan pada perayaan malam ini sudah dilakukan sejak ketika Gereja mulai merayakan Paskah tahunan (art. 80).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, mengingat pentingnya iman pada kebangkitan dan mempertimbangkan kekayaan misteri iman yang diungkapkan dalam simbol-simbol pada tirakatan Paskah, maka sangat dianjurkan agar umat menghadiri tirakatan Paskah ini untuk menghayati kembali misteri utama iman Gereja. “Para gembala hendaknya mengajak kaum beriman untuk mengambil bagian dalam seluruh perayaan Malam Paskah” (art. 95; SC art. 106). Mereka yang sudah menghadiri misa Malam Paskah, sudah memenuhi kewajiban merayakan Misteri Paskah pada hari Minggu (bdk. SC 106). Karena itu mereka ini tidak wajib untuk merayakan lagi Minggu Paskah pagi. Namun demikian tetap sangat dianjurkan agar umat juga menghadiri perayaan Ekaristi Minggu Paskah pagi sebagai kelanjutan kegembiraan merayakan Kebangkitan Tuhan. Anjuran yang sangat ini bahkan dirasakan sebagai “keharusan”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkaitan dengan Minggu Paskah, Gereja menegaskan: “Misa Minggu Paskah harus dirayakan dengan meriah” (art 97). Ketiga, sejauh menyangkut perayaan liturginya, kekayaan liturgi Malam Paskah tidak bisa dibandingkan dengan liturgi Minggu Paskah pagi. Kekayaan liturgi Malam Paskah menonjolkan perayaan cahaya, madah Paskah, bacaan-bacaan Perjanjian Lama yang merupakan tipologi pembebasan yang dibawa oleh Kristus, dan perayaan Baptis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan pertimbangan pastoral bahwa banyak umat yang hadir pada Minggu Paskah pagi tidak sempat mengikuti perayaan Malam Paskah, maka untuk liturgi Minggu Paskah, Gereja menganjurkan untuk juga memasukkan upacara perarakan Lilin Paskah pada pembukaan dan pembaharuan janji Baptis sesudah homili. Dengan demikian, diharapkan umat juga bisa dibantu untuk menghayati misteri Paskah sebagai peralihan dari kegelapan kematian kepada terang kehidupan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Rm</em>.&nbsp;<em>Petrus Maria Handoko, CM</em></p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/wajibkah-mengikuti-misa-minggu-paskah-pagi/">Wajibkah Mengikuti Misa Minggu Paskah Pagi?</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BEDA BAPTISAN ANAK DAN DEWASA</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/beda-baptisan-anak-dan-dewasa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Aug 2023 04:36:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Katekese]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=1051</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rm. Petrus Maria Handoko, CM Apakah sakramen Baptis untuk orang dewasa dan sakramen Baptis untuk anak itu berbeda atau dipandang sama saja? Elisabet,&#160;Papua Pertama, sakramen Baptis sebagai sakramen, tentu saja adalah sakramen yang sama jika diberikan kepada orang dewasa maupun kepada anak-anak. Hukum Gereja menyatakan “sakramen-sakramen adalah sama untuk seluruh Gereja dan termasuk khasanah ilahi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/beda-baptisan-anak-dan-dewasa/">BEDA BAPTISAN ANAK DAN DEWASA</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="wp-block-paragraph">Rm. Petrus Maria Handoko, CM</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Apakah sakramen Baptis untuk orang dewasa dan sakramen Baptis untuk anak itu berbeda atau dipandang sama saja?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Elisabet,</em></strong><em>&nbsp;Papua</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, sakramen Baptis sebagai sakramen, tentu saja adalah sakramen yang sama jika diberikan kepada orang dewasa maupun kepada anak-anak. Hukum Gereja menyatakan “sakramen-sakramen adalah sama untuk seluruh Gereja dan termasuk khasanah ilahi . . . “ (KHK Kan no 841) Penerima sakramen boleh berbeda-beda, tetapi Sakramen Baptis-nya tetaplah sama. Sakramen Baptis adalah pintu gerbang untuk sakramen-sakramen lainnya karena sakramen inilah yang memberikan rahmat penghapusan dosa asal dan semua dosa lainnya dan menganugerahkan keselamatan yang merupakan buah penebusan Kristus. Melalui Sakramen Baptis ini, semua orang yang dibaptis disatukan dengan Yesus Kristus, dan karena itu juga disatukan dengan semua orang yang sudah bersatu dengan Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, perbedaan antara Baptis dewasa dan Baptis anak-anak terletak pada penerimaan sakramen itu, bukan pada keabsahan atau terjadinya sebuah sakramen. Dalam hal terjadinya, setiap sakramen ditentukan oleh materia (“bahan” atau tindakan minimal yang ditentukan Gereja harus ada), forma (doa yang menyertai pelaksanaan sakramen), intensi dari pelayan sakramen dan kuasa yang dimiliki oleh pelayan sakramen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu diingat bahwa terjadinya sakramen tidak tergantung pada penerimaan dari orang yang menerimanya. Tetapi dalam hal efektivitas rahmat yang diberikan dalam diri orang yang bersangkutan, keikutsertaan subyek penerima sangat menentukan.Tanpa tanggapan aktif dari penerima, sebuah sakramen menjadi sakramen yang sah tetapi mandul. Tetapi penerima pertama ialah komunitas atau Gereja, bukan pribadi masing-masing anggota Gereja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, anak-anak dibaptis sebagai anak, bukan sebagai orang dewasa yang sudah mampu menanggapi rahmat Allah secara bebas dan mengasimilasinya. Sebagai anak, mereka masih tergantung dalam segala hal pada orang tua mereka. Karena itu, buku liturgi Upacara Pembaptisan Anak-anak mengatakan bahwa “mereka dibaptis dalam iman Gereja yang diakui oleh para orangtua dan wali baptis serta semua hadirin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itulah, dalam pelaksanaan liturgi pembaptisan, orang tua dan wali baptis mewakili anak-anak menjawab ajakan dan pertanyaan imam. Untuk selanjutnya, orangtua dan wali baptis mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anak itu dalam iman Katolik. Dengan demikian, sakramen itu baru mendapatkan artinya yang penuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itulah, Gereja menetapkan persyaratan utama untuk pembaptisan bayi ialah bahwa “ada harapan cukup beralasan bahwa anak itu akan dididik dalam agama Katolik; bila harapan itu tidak ada, baptis hendaknya ditunda.” (KHK Kan no, 868, # 2).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Apakah wali baptis itu harus sama jenis kelaminnya, artinya seorang bapak untuk calon baptis laki-laki, dan seorang Ibu untuk calon baptis perempuan? Berapa jumlah wali baptis yang diizinkan?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Heribertus Ndosor,</em></strong><em>&nbsp;Ruteng</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, dalam Kitab Hukum Kanonik 1983 yang berlaku pada saat ini, sudah tidak ada ketentuan bahwa para wali Baptis harus diambil dari jenis seks yang sama. Dengan kata lain, sorang Bapak bisa menjadi wali baptis untuk calon baptis perempuan, demikian pula seorang Ibu bisa menjadi wali baptis untuk calon baptis laki-laki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, wali baptis yang resmi dan tercatat dalam surat baptis hanyalah satu orang atau dua orang yang berbeda jenis kelamin. Hukum Gereja mengaturnya: “Sebagai bapak/ibu baptis hendaknya diambil hanya satu laki-laki atau hanya satu perempuan atau juga laki-laki dan perempuan.” (KHK Kan no. 871). Wali baptis “bukan ayah atau ibu dari calon baptis” (KHK Kan 874 # 5)</p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/beda-baptisan-anak-dan-dewasa/">BEDA BAPTISAN ANAK DAN DEWASA</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Imam yang Sezaman: Berani Memilah Budaya</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/imam-yang-sezaman-berani-memilah-budaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 May 2023 07:22:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=950</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa yang tidak mengenal imam sebagai salah satu kaum religius dalam Gereja Katolik? Yaps, merekalah yang biasanya melayani di gereja ataupun karya sosial lainnya. Pelayanan mereka bukan hanya sebatas memimpin perayaan Ekaristi, tetapi bisa berkarya di persekolahan, seperti Kolese, karya sosial, seperti GOTAM (Gerakan Orang Tua Asuh Misioner), yayasan-yayasan pendukung, serta karya-karya pastoral lainnya. Apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/imam-yang-sezaman-berani-memilah-budaya/">Imam yang Sezaman: Berani Memilah Budaya</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="740" height="493" data-id="951" src="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/05/Iman-yang-Sesaman.jpeg" alt="" class="wp-image-951" srcset="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/05/Iman-yang-Sesaman.jpeg 740w, https://parokihtspmsempusarijember.or.id/wp-content/uploads/2023/05/Iman-yang-Sesaman-300x200.jpeg 300w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Siapa yang tidak mengenal imam sebagai salah satu kaum religius dalam Gereja Katolik? Yaps, merekalah yang biasanya melayani di gereja ataupun karya sosial lainnya. Pelayanan mereka bukan hanya sebatas memimpin perayaan Ekaristi, tetapi bisa berkarya di persekolahan, seperti Kolese, karya sosial, seperti GOTAM (Gerakan Orang Tua Asuh Misioner), yayasan-yayasan pendukung, serta karya-karya pastoral lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa itu Budaya</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya diartikan sebagai pikiran, akal budi, hasil, adat istiadat atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah Budaya menjadi suatu cara hidup yang berkembang dan menjadi milik bersama oleh sebuah kelompok masyarakat dan diturunkan dari generasi ke generasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia sendiri terkenal dengan kekayaan budayanya. Tidak heran, sebab dari segi wilayah, Indonesia yang adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulaunya. Dari pulau0pulau tersebut, hidup lebih dari 360 suku bangsa. Dalam catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), karya budaya di Indonesia yang telah ditetapkan menjadi warisan budaya takbenda mencapai sejumlah 1.239 pada tahun 2020. Budaya takbeda iotu sendiri meliputi seni pertunjukkan, tradisi dan ekspresi lisan, adat istiadat, pengetahuan alam, kerajinan, dan perayaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Budaya di Indonesia tidak lepas dari nilai-nilai luhur yang digenggam erat. Inilah yang menjadi khas dalam budaya Indonesia. Contohnya ialah gotong-royong, saling tolong menolong, ramah, santun, toleran, dan peduli terhadap sesama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tantangan Zaman</p>



<p class="wp-block-paragraph">Era globalisasi dengan segala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi tantangan yang kita hadapi sekarang. Globalisasi seakan-akan meruntuhkan sekat-sekat antara negara satu dengan negara lainnya. Globalisasi bisa menembus ruang dan waktu &nbsp;dengan sebegitu mudahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Era inilah membuat budaya-budaya luar mudah masuk ke Indonesia. Kita bisa melihat tanda-tanda ini mulai dari bagaimana cara berpakaian, cara berkomunikasi, cara makan, dan hampir semua aspek kehidupan atau budaya luar yang masuk dengan mudah dan diikuti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Era globalisasi bukanlah sautu hal yang baru. Proses ini sudah mulai sejak lama, dan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin besar pula terasanya era ini. Pada kenyataannya, kita bisa merasakan bahwa sudah banyak budaya luar yang masuk dan diikuti oleh masyarakat Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masa pandemi covid-19 pun seakan-akan menjadi hukuman bagi budaya lokal yang mau tidak mau harus berhenti. Bagaimana tidak, secara hidup, kita benar-benar dibatasi dengan tidak diizinkannya untuk beraktivitas di luar rumah. Semua hal kita lakukan secara daring. Inilah yang menjadi ancamannya. Pandemi jugalah yang menggugurkan banyak penatua, orang-orang yang masih kental dengan budaya, para budayawan, dan bisa jadi mereka belum sempat menurunkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Digitalisasi yang dihadapi kaum muda pun membuat budaya menjadi sulit untuk diturunkan. Kebiasaan menghadap alat-alat elektronik yang dengan intensi utama untuk bersekolah menjadi bercabang dan semacam cuci otak bagi anak muda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Budaya modern dengan mudah menguasai anak muda. Fenomena-fenomena ini akan sangat mudah dijumpai melalui media sosial, seperti Instagram dan TikTok. Anak muda zaman sekarang terlihat cukup labil, lebih mengutamakan untuk mencari eksistensi dirinya melalui media sosial. Mereka dengan mudahnya engikuti arus zaman. Apa yang banyak dilakukan orang lain, maka mereka akan ikut serta meramaikannya. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk ingin viral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mulai dari sinilah budaya Indonesia semakin lama semakin tergerus oleh zaman. Satu persatu nilai luhur yang dibawa oleh budaya Indonesia ditinggalkan begitu saja. &nbsp;Semakin tergerus, semakin turun pula moral dan karakter bangsa Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini yang perlu menjadi keprihatinan Gereja. Sebagai persekutuan umat Allah yang juga hidup dalam dunia ini, Gereja perlu turut andil dalam permasalahan hidup bersama. Bagaimana agar tetap bisa mempertahankan budaya Indonesia dengan segala kekayaan nilai luhurnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ajakan Berdialog</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Romo Agustinus Tri Edy Warsono, Pr dalam buku Caritas Christi Urget Nos menyampaikan bahwa Gereja senantiasa hidup di tengah masyarakat yang diwarnai dengan kemiskinan, aneka macam agama dan budaya. Dalam situasi demikian, seorang imam harus mampu berdialog dengan semua pihak demi mewujudkan kebaikan bersama. Dialog yang bangun tidak hanya berhenti pada persoalan teologis semata, tetapi juga garus menyentuh pada dialog kehidupan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu kita sadari memang Gereja hidup tidak lepas dari dunia dengan segala macam warnanya. Pertama, Permasalahan kemiskinan yang tidak selesai, ataupun fenomena kesenjangan sosial dengan maraknya kasus pamer harta. Kasus terbaru ialah anak-anak pejabat yang memamerkan harta orang tuanya melalui media sosial. Kasus yang lebih parah lagi tergambar dalam ungkapan, &#8220;Gaya elit, ekonomi sulit&#8221;. Hal yang diprioritaskan adalah gaya atau penampilan di depan publik. Padahal, dari segi ekonomi, tidak lebih dari kata cukup, atau bisa jadi malah kurang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, aneka macam agama dan budaya. Dalam hidup bersama, kita tidak bisa lepas dari aneka agama dan kepercayaan dan juga budaya yang ada. Bahkan, di setiap paroki pun memiliki budayanya masing-masing yang tentunya berbeda satu dengan yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang situasi yang dihadapi saat ini adalah lunturnya budaya lokal yang tersingkir akibat adanya budaya-budaya modern. Imam yang dibutuhkan adalah seorang yang tetap bisa mempertahankan segala kearifan lokal yang ada. Bukan hanya sebagai bentuk sikap pastoral bagi orang tua yang lumayan kental dengan budaya, tetapi juga untuk orang muda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mempertahankan budaya juga bisa membuka dialog dengan agama lain. Jika dipikir secara logis, memang agama dengan segala isinya memisahkan kita. Akan tetapi, budayalah yang justru bisa menjadi jembatan untuk semua itu. Seorang imam yang bisa berdialog, srawung, dan hadir dalam masyarakat sangat dibutuhkan untuk menguatkan nilai-nilai budaya agar tetap berakar di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal lain yang bisa dilakukan adalah melalui inkulturasi liturgi-liturgi yang ada. Misalkan saja di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, imam yang bertugas bisa mengadakan misa bahasa Jawa, ataupun ibadat-ibadat dengan bahasa daerah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, Gereja, melalu para imam, mengusahakan terwujudnya Gereja yang Sinodal. Berjalan bersama dengan unsur kebudayaan yang ada. Hal ini sekaligus mewujudkan gerak Gereja yang inkulturatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, arah tujuannya adalah bisa menggerakkan anak muda bukan hanya menikmati budaya itu sendiri, tetapi menghidupi dan melestarikannya, lalu membagikannya kepada orang-orang di sekitarnya. Bukan tidak mungkin budaya asli, kearifan lokal, akan tetap menjadi warna tersendiri di bumi Indonesia ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul &#8220;Imam yang Sezaman: Berani Memilah Budaya&#8221;, Klik untuk baca:</p>



<figure class="wp-block-embed"><div class="wp-block-embed__wrapper">
https://www.kompasiana.com/gabrieledbrt/63ff2cae4addee5131023a82/imam-yang-sezaman-berani-memilah-budaya?page=3&#038;page_images=1
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kreator: Gabriel EdbertLiandrew</p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/imam-yang-sezaman-berani-memilah-budaya/">Imam yang Sezaman: Berani Memilah Budaya</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahasa sebagai Pemersatu dalam Gereja</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/bahasa-sebagai-pemersatu-dalam-gereja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 May 2023 06:57:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=948</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa jadinya jika dalam gereja tidak memiliki bahasa yang satu dalam beribadah? Lazimnya penggunaan bahasa dalam beribadah disesuaikan dengan kebutuhan jemaat yang ada. Misalnya, gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang menetapkan penggunaan dua bahasa dalam peribadahan: bahasa Batak dan Indonesia.&#160; Penggunaan kedua bahasa ini tentunya sudah melalui kesepakatan dan terjadwal, sehingga orang dapat beribadah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/bahasa-sebagai-pemersatu-dalam-gereja/">Bahasa sebagai Pemersatu dalam Gereja</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="wp-block-paragraph">Apa jadinya jika dalam gereja tidak memiliki bahasa yang satu dalam beribadah? Lazimnya penggunaan bahasa dalam beribadah disesuaikan dengan kebutuhan jemaat yang ada. Misalnya, gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang menetapkan penggunaan dua bahasa dalam peribadahan: bahasa Batak dan Indonesia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penggunaan kedua bahasa ini tentunya sudah melalui kesepakatan dan terjadwal, sehingga orang dapat beribadah sesuai dengan bahasa di mana ia merasa lebih cocok. Dengan begitu, ini menjadi salah satu cara dalam merekatkan jemaat dalam peribadahan di gereja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">kita tidak boleh melupakan tinjauan alkitabiah mengenai penggunaan bahasa dalam satu perkumpulan atau komunitas. Setidaknya ada dua perspektif yang dapat kita lihat, baik dalam Perjanjian Lama (PB) maupun Perjanjian Baru (PB). Dalam PL ada peristiwa pengacauan bahasa yang dilakukan Allah dalam proses pembangunan menara Babel. Menurut Kejadian 11:9 istilah Babel itu sendiri berasal dari peristiwa itu, di mana Allah mengacaukan seluruh bangsa, dan membuat mereka berserak di seluruh bumi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedangkan dalam PB, peristiwa Pentakosta. Para rasul Ketika dipenuhi Roh Kudus, mereka dapat berbicara berbahasa asing, padahal mereka orang Galilea (Kisah Para Rasul 2:1-13), sehingga membuat orang-orang di sekitar mereka menjadi bingung dan tercengang melihat peristiwa itu. Melalui ini, dapat dilihat bahwa tidak adanya penggunaan bahasa yang satu dalam satu komunitas, akan membuat komunikasi menjadi terganggu dan tidak efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu bagaimana gereja menanggapi ini? Gereja sebagai komunitas (baca: persekutuan) umat percaya tidak lepas dari penggunaan bahasa dalam komunitas itu. Buku Harta dalam Bejana tulisan Thomas van Den End dapat dilihat latar historis kata gereja, di mana gereja memiliki tiga istilah yang terkenal: igreja (Portugis), kuriakon dan ekklesia (Yunani).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga bahasa ini berasal dari kata ekklesia, berarti yang dipanggil keluar (van Den End, 2019: 1). Ini tampak pada peristiwa pemanggilan para murid Yesus yang kemudian diutus menjadi rasul, memberitakan Kabar Baik kepada seluruh bangsa di muka bumi. Mereka keluar dan membentuk satu komunitas orang percaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pula halnya dengan gereja Batak seperti HKBP. Dalam bukunya yang berjudul Adat dan Injil,, Lothar Schreiner menuliskan bahwa I. L. Nommensen yang dikenal sebagai apostel Batak mendirikan Huta Dame (Kampung Damai) sebagai tempat untuk menampung orang-orang yang diusir karena memilih menjadi Kristen. Ia dengan arif bertindak kepada pribumi, hingga ia dipandang sebagai raja di kampung Kristen itu (Schreiner, 2010: 44).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola ini sama seperti pengertian gereja ekklesia, di mana ada komunitas yang baru yang tidak lepas dari penggunaan bahasa. Jubil R. Hutauruk juga menuliskan dalam bukunya Berakar dan Bertumbuh di dalam Kristus bahwa Nommensen dibantu para penginjil pribumi dalam pelayannya (Hutauruk, 2011: 49). Dengan begitu, aspek bahasa sebagai pemersatu dalam berkomunikasi juga diperhatikan Nommensen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih lanjut menurut Robert O. Reid dalam tulisannya yang berjudul Toward a Theology of Communication, ia melihat bahwa gereja sebagai saluran dan fasilitator komunikasi memberikan diri untuk mendengarkan dan melihat apa yang dibutuhkan oleh dunia. Ada dua peran penting yang harus diperankan oleh gereja, yaitu peran profetik (kenabian) dan peran imam.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam peran profetik, gereja harus berusaha memahami secara mendalam apa yang terjadi pada manusia. Hal serupa juga dilakukan para nabi untuk memahami apa yang sedang terjadi pada zaman mereka kala itu. Sedangkan peran imam memberikan pengertian gereja memahami dan menguasai media sehingga dapat mengkomunikasikan titik-titik persimpangan yang dibahas.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua peran ini memiliki persamaan, yaitu memikul tanggung jawabnya di bawah tuntunan Roh Kudus yang berusaha menjadi saluran atau fasilitator tersebut. (Reid, 1974: 360). Selain itu, HKBP dalam salah satu dokumen teologinya, Konfessi HKBP 1996 pasal 7, memberikan pengertian gereja sebagai saluran komunikasi, yang mana diutus untuk memberitakan Kabar Baik bagi seluruh bangsa di dunia agar mau hidup kudus dan taat kepada Yesus Kristus (HKBP, 1996: 22-24).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui paparan di atas, peran gereja begitu penting dalam penggunaan bahasa di setiap ibadahnya. Gereja sebagai wadah persekutuan, berkaitan dengan penggunaan bahasa yang digunakan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baik bahasa Batak maupun Indonesia, penggunaan bahasa dalam peribadahan menjadi hal yang tidak boleh dilupakan gereja, di mana ia juga berperan sebagai fasilitator, mengkomunikasikan umat dengan Allah dan umat dengan sesamanya. Firman Simanjuntak (Mahasiswa STT HKBP Pematang Siantar)&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul &#8220;Bahasa sebagai Pemersatu dalam Gereja&#8221;, Klik untuk baca:</p>



<figure class="wp-block-embed"><div class="wp-block-embed__wrapper">
https://www.kompasiana.com/juntak28/637dc9bec57afb2ddc67d2b2/bahasa-sebagai-pemersatu-dalam-gereja?page=2&#038;page_images=2
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kreator: Firman Simanjuntak</p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/bahasa-sebagai-pemersatu-dalam-gereja/">Bahasa sebagai Pemersatu dalam Gereja</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gereja Kok Jadi Banyak Alirannya?</title>
		<link>https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/gereja-kok-jadi-banyak-alirannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[parokih1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 May 2023 06:50:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://parokihtspmsempusarijember.or.id/?p=946</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menurut catatan para sejarahwan, Gereja sempat mengalami perpecahan antara dua kubu yaitu: Kubu Gereja Katolik Barat (Katolik Roma) dan kubu Gereja Katolik Timur (Ortodoks), atau sering disebut Skisma Timur-Barat. Padahal, seperti yang kita ketahui, bahwa Yesus berpesan agar terciptanya kesatuan di antara pengikut-Nya. Hal ini dikemukakan oleh Yesus dalam doa-Nya, seperti yang dicatat oleh Yohanes, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/gereja-kok-jadi-banyak-alirannya/">Gereja Kok Jadi Banyak Alirannya?</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="wp-block-paragraph">Menurut catatan para sejarahwan, Gereja sempat mengalami perpecahan antara dua kubu yaitu: Kubu Gereja Katolik Barat (Katolik Roma) dan kubu Gereja Katolik Timur (Ortodoks), atau sering disebut Skisma Timur-Barat. Padahal, seperti yang kita ketahui, bahwa Yesus berpesan agar terciptanya kesatuan di antara pengikut-Nya. Hal ini dikemukakan oleh Yesus dalam doa-Nya, seperti yang dicatat oleh Yohanes, &#8220;Ya Bapa yang Kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita&#8221; (Yoh. 17:11). Kesatuan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dalam konteks ini adalah bebas dari konflik, dan pertengkaran, serta perpecahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gereja Barat dan Gereja Timur mengalami konflik, konflik ini sudah berangsur dari lama, bahkan sudah terjadi dari Abad ke-4. Hal itu disebabkan, karena perbedaan tradisi, dogmatis, dan teologi, serta politik yang tidak dapat di terima, oleh salah satu Gereja, baik itu Gereja Timur ataupun Gereja Barat. Perbedaan ini menimbulkan pengaruh yang besar di dunia Gereja. Konflik-konflik yang terjadi pada abad ke-4 melemahkan kekaisaran Romawi, sehingga membuat kekaisaran Roma jatuh menjadi dua bagian: Kekaisaran Romawi Barat dan Kekaisar Bizantium.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu pada abad ke-9 diawali dengan adanya perpecahan Fotiev, yang menjadikan Photius terpilih menjadi Patriark Konstantinopel, yang mendapat dukungan penuh dari Kaisar Bizantium, tetapi Paus tidak mengenalinya, karena ia percaya penunjukan patriark itu tidak sesuai dengan aturan. Paus juga memiliki keinginan untuk memperluas pengaruhnya ke Balkan, karena jika Phocius tidak diakui, dia dapat dengan mudah menetapkan uskupnya disana. Kaisar Bizantium yang tidak mau tunduk pada Paus, dan lebih memilih mendukung Phocius, membuat meningkatnya perselisihan dan menjadikannya seorang yang politis.[1] Pada tahun 1053, Gereja-gereja yang tunduk pada Roma, di Konstantinopel ditutup. Alasanya karena ritual yang dilakukan iu salah, sehingga Paus Leo IX mengirim duta besarnya ke Bizantium untuk menyelesaikan masalah tersebut. Akibatnya, sebuah pesan dikirim kepada Paus yang membenarkan penutupan gereja dan penolakan kategoris untuk membukanya. Para duta besar Paus segera dikucilkan.[2] Lalu pada tahun 1054 terjadilah sebuah konflik teologis, yang dimana mencantumkan penggunaan kata &#8216;filioque&#8217; pada syhadat yang membuat perdebatan antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Salah satu yang menjadi tujuan di masukannya &#8216;Filioque&#8217; dalam syahadat untuk melawan bidat arianisme, namun Gereja Timur menolak gagasan tersebut karena akan merendahkan pribadi Roh Kudus, dalam Tritunggal Mahakudus</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi Gereja mengalami perpecahan tidak hanya disebabkan oleh perbedaan tradisi dan teologi saja, namun faktor politik juga menjadi faktor utama yang dapat mempengaruhi dan menimbulkan perpecahan di dalam Gereja. Salah satu contoh dari pengaruh politik adalah, &nbsp;ketika kedua pemimpin Gereja ingin menyebar luaskan pengaruhnya disetiap daerah. Kekaisaran Romawi yang terbelah menjadi dua bagian ini, menjadi sebuah titik awal perpecahan Gereja, ditambah pemahaman Gereja Barat yang tidak sesuai dengan pemahaman Gereja Timur, yang akhirnya berpuncak pada skismatik Timur-Barat 1054.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul &#8220;Gereja Kok Jadi Banyak Alirannya?&#8221;, Klik untuk baca:</p>



<figure class="wp-block-embed"><div class="wp-block-embed__wrapper">
https://www.kompasiana.com/iqbalkurniawan7794/6468251137cb2a0ee15a97d2/gereja-kok-jadi-banyak-alirannya
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kreator: IQBAL KURNIAWAN</p><p>The post <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id/artikel/gereja-kok-jadi-banyak-alirannya/">Gereja Kok Jadi Banyak Alirannya?</a> first appeared on <a href="https://parokihtspmsempusarijember.or.id">Gereja Katolik HTSPM Sempusari Jember</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
